Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 April 2018

Kapital


Kaki Sang Kapital


Aku hanya termangu melihat mereka
… tersenyum
Akupun senyum
Mereka berbahagia dalam sebuah insta cerita
Aku swap kiriman perlahan
dan …
Aku kesal
Tersadar, ini ulah manusia capital

Di kepalaku,
Benarkah iya benar-benar tak sadar
Jika mereka korban
Ia korban paling tulus  tanpa penolakan
Tulus digilas perusak peradaban
Tempat makan dan teman-teman
Tak ketinggalan produk kecantikan
Juga aksesori perempuan
Dengan bangganya mereka duduk berselfi ria bercap logo kebanggan
Pak tua berkacamata,
Itu paling banyak digemari pemuda
Produk dengan logo asing memang bergengsi tinggi katanya

Sejatinya,
Mereka, kita, adalah korban
Yang beruang semakin kenyang
Yang kecil semakin malang
Begitu aturan mainnya

Kita tak bisa anti
Sengaja mereka membuat kita meng-anti
Bergaya dengan produk dalam keseharian
Katanya, itu adalah kebanggaan
Kekinian

Pemuda,
Cukupkah hanya berselfi ria di tempat hura-hura?
Cukupkah kita menjadii lahan kekayaan mereka
Puaskah hanya dengan memakai brand harga selangit
Agar dipandang elit?




                                                                                                                    Ska, 7 April 2018
                                                                                                                      YES

karam

Karam






kuputar harmoni dari dalam ruangan
hening 
kupaksakan 
ku nyanyikan
ada yang hilang
sayang..
tak menarik  ku utarakan
bait lagu berdendang..
cepat lepaskan..



dinding, kaca jendela pecah tak beraturan
melebur lacur
bak puing-puing berserakan
apa kata tuan?
rapikan !
pungut pelan nan manis kutatap nan tikam
kupaksa tanganku bergerak menyusuri cuilan-cuilan
ah..
ternyata..
bisa !



kuambil segera plastik hitam
kutaruh cuilan dalam kantong kelam
tak berwarna,
usang,
kusam
biarlah  karam



retak
pecah
hancur
lalu..
hilang


padam
redam
tentram


semoga




Ska, 7 April 2018
YES


Jumat, 06 April 2018

Memori




Memori


Hujan mendesah siang itu
Renyah
Basah
Sendu
Mengantarkan kembali cuilan memori malam itu
Pikiran ku tertuju pada gelas bekas
Tergolek lemas di atas teras
Menengadah tulus menghadap atas
Ah tak jauh beda dengan ku
Digiring genangan kesitu
Ah mau-mau nya aku
Ingatan ku dipaksa bangun lagi
Setelah kenangan memilih untuk menepi menyepi
Pada tuan kehampaan
Yang hampa perasaan
Kutarik kembali puing-puing ingatan
Yang sempat dipaksa terseret keadaan
Hujan
Leburlah
Jujurlah
Pada tanah yang telah kau buat basah
Yang senantiasa menengadah
Tanah paham
Ada matahari yang sanggup menyinari sisi nya yang kelam

Ngawi, 6 Pebruari 2018
YES



remang-remang


Remang - Remang


Menulis tanpa pena
Menyatu tanpa ragu
Mendengar tanpa telinga
Mengadu dalam bisu

Hampa
Lara
Itu pasti

Dimana kutemukan laut tanpa ombak
Dimana kucari hujan tanpa petir
Dimana ketemukan tenang tanpa isak
Dimana kucari tabah tanpa getir
Dimana pula kucari asap tanpa api
Juga dimana ada durian tanpa duri

Pagi itu, ia datang lagi
Kedatangan yang tak berkesudahan
Pergi tak beraturan
Ku mengadu tanpa gaduh
Ku berteriak hingga telingaku sendiri pekak
Berlari tanpa kaki
Merangkak hingga lututku pun bengkak
Raga di bumi
Pikiran meletup-letup tak pasti
Logika mati seketika
Rasaku punah begitu saja
Scenario diubah ternyata

Kenapa pula belum juga kutemui
Apa yang kucari
Kemana ia sembunyi
Jangan-jangan telingaku yang tuli
Kulacak radar kesana kemari
Akal ku kah yang dangkal
Hatiku kah yang lumpuh
Rapuh
Jauh


Ngw, 2 Pebruari 2018
YES


Kamis, 05 April 2018

Manis


Manis Tiruan





Lebah mengiung tak beraturan
Memburu sarang
Berkumpul menepi menengah mencari jalan
Nguung nguung nguung ….

Bailah kuteruskan,
Amati gerakan cenayan tengah khusyu’ menynggu liur manis dikejauhan
Kupikir aku saja
Ternyata bukan

Kupikir-pikir lagi
Kenapa pula sedari tadi aku menunggunya
Baru sadar, ini Cuma manis madu
Bukan manis kehidupan
Bisa kudapatkan di pasar-paar
Ia memang pasaran
Para atok lah yang tiap pagi menawarkan

Tak sama dengan madu yang kucari
Tak dijual di sembarang pasar
Apalagi di seberang jalan
Ia bukan pinggiran
Apalagi pasaran

Terus terang,
Kini ia menjelma menjadi langka
Bak cendrawasih di suaka marga satwa
Terkunkung terkekang tak beraturan kaarnya
Madu itu,
Kurasa aku tak betul-betul membutuhkannya
Barangkali lebih sakti Empunya.

Ngw, 5 Januari 2018
YES


GENDER DAN PENDIDIKAN

Kasus Amoral selalu Sudutkan Perempuan, Mungkinkah karena Kurangnya Pendidikan Gender? Oleh: Yulia Eka Saputri (G000150131) www.cokl...